: Kepada Cinta (3)

Terkadang aku berfikir tentang kematian

yang seakan-akan dia dekat sekali

seperti umurku tidak akan panjang

ferino177051.jpg

seperti itulah kekhawatiranku saat kau tak datang. sesaat tiba-tiba waktu membuatku kelaparan. atau mungkin membuat perutku pedih tak tertahankan. dua kali aku bilang untuk kembali, tapi tak ada yang berubah juga.

seringkali aku berfikir, “bagaimana nanti?” “bagaimana jika…” terlalu banyak kekhawatiran-kekhawatiran yang itu itu saja. kekhawatiran yang sebenarnya sama. juga mungkin tingkah laku yang serupa.

mungkin ini karena aku terlalu sering berlari kearahmu, namun kau tidak. duduk manis saja dari balik bayang-bayang dan biarkan aku yang selalu merasa kesedihan.

kesedihan yang sebenarnya tak boleh ada dalam benak.

kekhawatiran yang sebenarnya harus jauh-jauh dari dekap.

seperti.. ya seperti aku tak kuasa lagi untuk mengontrol apa-apa yang ada dalam pikir dan diri.

begitu saja, begitu saja.

yang sebenarnya akupun tak mau melakukannya.

begitu saja.

 

Jakarta,270319

Advertisements

: Kepada Cinta

aku ingin menghaturkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya padamu

memang, segalanya terlihat semu

bahkan mungkin cinta itu

aku sampaikan terima kasih karena sudah berkali-kali keikhlasan menghampiri

tapi kutolak mentah-mentah begitu saja.

ada lagi cerita,

yang satu ini tidak ada duanya. setiap minggu selalu ada saja

: waktu untuk bersumumpah serapah.

memang pada kenyataannya aku hanya sendiri saja

menikmati rasa dan asa yang tidak ada duanya.

menikmati amarah, juga murka yang ada dalam darah.

menikmatinya,

senikmat-nikmatnya.

sekali lagi aku haturkan padamu rasa terima kasih yang tak terkira

atas perjuangan yang selalu saja minta balasan.

atas rasa khawatir yang masih saja berkepanjangan, dan aku bisa apa?

oh iya, aku lupa.

aku hanya bisa merasanya sendiri saja. menikmatinya.

baik,

aku sampaikan terimakasih ya

: kepada Cinta.

626f3b42-cbfc-43c2-969f-15ba14f2e02a

 

Jakarta, 130219

Siapa itu manusia?

Siapa itu manusia?

Sedang tiap hari ia hanya menimbun luka

Mencerca lewat kata

Melihat tanpa rasa

Siapa itu manusia?

Yang menggerutu tak bekerja

Yang mengadu mengada-ada

Yang suka merasa tak bersalah

Siapa sebenarnya manusia?

Bercengkrama tanpa melihat wajah

Tertawa diatas duka yang amba

Terbujur kaku dengan permata

Lalu,

Siapa sebenarnya mereka ?

Jakarta, 080918

Jiwa jiwa

Yang lelah mencari alasan untuk bertahan

Dengan segala rupa kesenangan

Dengan segala bentuk yang tak pernah terduga

Menyerah, bukan untuk mengalah

Bukan juga untuk berubah

tapi untuk menjadi searah dan terarah

Jakarta, 150818

Aku, kamu dan hidup

Yang artinya hidup

Berarti berjalan untuk menerima

Mungkin juga untuk memberi apa yang kita punya

Meski kadangkala lebih banyak pahitnya

Namun tak apa

Asalkan kau ada didepan mata

(Mungkin) aku (akan) bahagia

Yah, semoga bukan retorika belaka

Jakarta, 270518

Anak tangga

Aku menapaki tapak demi tapak

Anak tangga yang telah aku susun sedemikian rupa

Sejak aku kecil,bahkan

Aku mengerti bagaimana rasanya dibuang

Diejek sedemikian dalam

Dikucilkan ditengah kerumunan kawan

Aku pernah

Sudah pernah ada dikondisi yang demikian.

Aku tidak sedang bilang anak tanggaku sudah rampung, sudah siap aku naiki

Tidak, masih belum

Anak tangga itu masih berproses aku susun.

Masih perlu difinishing oleh Allah

Apa yang menjadi bagianku, aku cari, aku berusaha jalankan

Selebihnya nanti, biar Allah yang menyempurnakan.

Jakarta, 01/05/18