antara Lamongan – Surabaya – Jakarta

antara anyer dan jakarta kita jatuh cinta…

No! ini bukan soal lagu hahahaa!

tapi, saya akan sedikit bercerita seputar musik dan kesenian di kota tersebut. why? ya karena saya pernah dan (sedang) disana saja. apa salahnya berbagi? maklum, hidup sedikit berpindah-pindah ini membuat saya menyadari banyak hal memang. salah satunya tentu, bahwa dunia ini begitu besar. bahwa, diatas langit masih ada langit.

  • Lamongan – Surabaya (begining)

saya nggak yakin kalo kalian tau tentang kota kecil dipesisir pantai diprovinsi jawa timur satu ini. mungkin beberapa tau dari langganan penyetan lele, bandeng tahu dan tempe di depan kosan atau dari kaos yang diterbitkan oleh salah satu apparel indie indonesah. iya, saya besar disana dengan numpang lahir di kota yang setengah jam saja dari Lamonga, Gresik. selebihnya hidup saya sebagian besar ada disana. sampai saya duduk di bangku sekolah menengah pertama, saya memutuskan hijrah sendirian di Surabaya.

***

arina kecil, tidak merasa bahwa dia telah terseret masuk ke jurang sastra saat kelas 5 SD dengan puisi perrtama yang dia bacakan adalah puisi dari KH. Mustofa Bisri, yang sejak saat itu ia mulai mengidolakan beliau dan berharap besar bisa satu panggung dengan beliau. tapi sampe sekarang gak kejadian juga . oh, belum maksudnya.

maka dari itu, sejak saat itu selalu memimpikan bisa ada di sebuah acara sastra yang beken atupun acara kesenian yang populer di syurabayah. yang sampe pada waktunya ternyata gak bisa juga. namanya juga anak sekolah, hajatan seni populer saat itu adalah Festival Seni Surabaya atau FSS. tempat dimana para perupa ngumpul, para sastrawan ngedon  sampe pagi. tapi gak kesampaian juga. karena perhelatan tersebut terjadi selalu saat ia sedang ujian sekolah. saat sedikit dewasa, ia menyadari masih ada lagi yang lebih beken dan keren dibanding FSS. nasib.

oh iya, perkenalan saya dengan musik sebenernya dari bayi (mungkin). saya juga ndak ngerti. tapi yang saya sadari dari foto-foto diri, setiap bepergian saya gak pernah lepas dari headset putih yang norak itu. oh. sepertinya saya ingat, waktu SMP saya nodong minta dibelikan iPod dengan separo adalah uang tabungan yang saya kumpulkan dari uang jajan. heu. cukup menarique juga ingatan saya. sejak saat itu, yang saya ingat saya mulai menyesali kenapa dulu waktu SD saya selalu males dan pura-pura pusing saat mama saya menyuruh saya untuk les keyboard. mungkin belom feeling , atau mungkin karena kecapean sekolah full day school. 

alhasil, saat smp di surabaya saya memutuskan untuk melanjutkan les keyboard disertai dengan omelan mama saya yang muales banget buat lesin saya musik. kenapa? saya SMP di surabaya, weekend adalah saat dimana saya harus pulang ke lamongan plus, sekolahan saya saat itu adalah sekolah islami-relejeus dan saat masa itu emak saya selalu ngomelin seputar transport dan supir. ya begitulah mamah-mamah.

singkat cerita, saat bersekolah di Surabaya, karena sekolah saya begitu banget, disana gak diijinin wanita untuk “tampil” atau menjadi tontonan. musik menjadi suatu hal yang tidak begitu diagungkan, sedangkan pikiran saya saat itu mau soksokan jadi anak band   yang sampe sekarang juga gak keturutan. jadi, saya ikut masuk ke komunitas indie lamongan yang saat itu saya inget bangeeet beli kaset kompilasi keluaran mereka yang judulnya “Kompilasi Sego Boran”.

mungkin bertanya-tanya, apa itu Sego Boran? well, Sego Boran  adalah makanan khas Lamongan yang terdiri dari banyak lauk pauk plus sambel yang cuma ada dan enaknya di Lamongan aja. seems like nasi campur kali ya, tapi ini ada sambel yang bikin khas itu. nah, karena kaset tersebut adalah kaset kompilasi, maka disebutlah “kompilasi sego boran” karena terdiri dari banyak band yang tergabung didalamnya saat itu.

kalo dipikir-pikir memang ngapain juga waktu itu saya masuk komunitas itu ya? main musik, gabisa, pegang ampli gangerti HAHA! ya penasaran aja mungkin. dan saya jadi satu-satunya anggota yang palinggggg muda karena lainnya adalah anak2 SMA maupun para pekerja. at the end, saya gangerti mau ngapain. tapi waktu itu mungkin karena saya juga menemukan bukunya bang Idhar Rhesmadi tentang musik Indie. disitulah awal saya kemudian berkenalan dengan bang Idhar, yang akhirnya menjadi kawan menonton Explosions in The Sky berberapa tahun kemudian :))

*saya teruskan lagi nanti ya. rupa-rupanya cukup panjang juga menulisnya. ini adalah permulaan saya menulis mengenai musik nantinya. harapannya sih begitu, tapi mari kita lihat apa tulisan ini ada terusannya ataukah tidak!

Advertisements

Menunggumu berkhianat waktu

Kembali menunggu

Dengan cerita biru

Sebuah khianat waktu

Dan harap yang menggebu

Apa benar aku milikmu?

Sedang hati terus menerus menebar syahdu

Oh, mungkin aku memilih begitu

Menerjang otakku dengan fikiran semu

Dan hatiku dengan perasaan tak menentu

Oh!

Biar, biar saja kau buat waktuku berlalu

Dengan menunggu

Menunggu

Menunggu

Me-n-unggu

Lamongan, 01/01/18

Why am i always waiting?

Jika lelaki benar-benar memilihmu, apa iya menunggu harus jadi pilihat yang satu?

Mengapa memilih menunggu?

Jika hati sudah (dirasakan) menjadi satu?

Iya juga, pikirku.

Jadi? Harus aku biarkan dia yang menunggu?

Dengan berulang kali kubiarkan diriku menunggu

Satu…

Dua…

Tiga…

Mengalah untuk pilihan hidup

Haruskah?

Menunggu lagi

Apakah ada keyakinan ia akan jadi milik?

Dengan pengorbanan yang tak sedikit

Perlu berapa lama lagi?

Iya, aku menunggu

Terus menunggu.

Cerita tentang kehadiran

Sebelum pagi kita harus siap-siap pergi

Bukan karena aku benci

Tapi memang waktu yang tak lagi bisa dikongsi

Sudah berusaha aku untuk berdiam diri

Tanpa ada isak tangis mengiringi

Tapi bayang-bayang imaji

Tentang jarak yang tak kuat aku hadapi

Mungkin juga tentang hal-hal lain

Yang tak bisa begitu saja digantikan

Lagi-lagi ini masih tentang kehadiran

Tanpamu, siapa aku ?

Jakarta,06/12/17

Cinta dan Rindu

Rindu itu menjengkelkan

Juga dengan kata kata teduh yang tertangkis padam

Juga cinta, yang banyak disebutkan orang

Menunggu menjadi persoalan yang kejam

Sebentar-sebentar terburu

Sebentar-sebentar raguragu

Jika tak merasa begitu, maka jatuh cintamu tak perlu

Jakarta,06/12/17

Lelaki yang senyumnya meneduhkan

Membuatmu berbicara bagai kumenunggu melepas dahaga, wahai lelaki yang senyumnya meneduhkan

Seperti dikoyak mentah oleh kebisuan yang akupun selalu bertanya pada diri

“Bagaimana aku bisa begitu mencintaimu?”

Terlalu banyak asa, terlalu banyak rasa, yang semula pahit, menjadi asam, berubah lagi menjadi manis, lalu kembali lagi kurasakan pahitnya. Apa itu cukup memberimu kebebasan untuk merasukiku?

Ah…

Duhai lelaki yang senyumnya meneduhkan

Pada tiap sujud terakirku, tiap usai salatku kau selalu ada

Kugumamkan dalam doa doa

Semoga saja, yah…

Semoga saja

Kaupun melakukan hal yang sama

Jakarta,051217