Membuat Ingatan

Aku memilih untuk membuatnya

Hanya untukmu

Satu saja, tak lebih

Karena berlebihan itu tak baik bukan? 

Ini hari dimana umurmu semakin menjadi

Doaku telah kuhaturkan bersama hujan malam tadi

Yang ikut bersemayam bersama lelapmu

Oh hai,

Aku berharap kau terus mendekap dengan hangat 

Hingga

Umurku dan umurmu tertaut menjadi satu

Hingga

Rasamu rasaku menjadi saling butuh

Hingga

Tuhan menghendaki hal lain yang kita sendiri tak kuasa untuk merubah.

Iya, aku memilih untuk membuat ingatan tentang hari ini.
Yogyakarta, 210717

Ketakutan yang menjelma

Ruparupanya ketakutan itu masih ada

Ia menjelma antara ada dan tiada

Tersembunyi dibalik katakata

Yang lebih susah untuk ditelaah

Ini perkara yang bukan mudah

Hati tenggelam dalam lautan luka 

Bukan lagi satu, dua atau tiga

Ruparupanya ketakutan itu masih ada

Ia menggerogoti segala ruang cerita

Rindu, cinta dan bahagia

Tak ada bedanya

Ruparupanya ketakutan itu masih ada

Yang kuharap bisa segera musnah

Dengan kata hatimu dan kataku yang melebur

Tak lagi sekedar bertutur
Jakarta, 060711

Terdengar berbeda, pada satu saja


…… saya tidak pernah se-emosional ini mendengar (they long to be) close to you dimainkan. Malam ini mungkin cukup berbeda, saya mendengar langsung dari format terbaik album Carpenters – Close to you secara langsung.  Entah itu menjadi salah satu alasan yang terbuat, atau memang karena beberapa hal yang terlah terlalui selama ini. Yah… seperti cukup membekas. Dan mendengar secara keseluruhan dari album ini cukup membuat airmata mengalir rintik-rintik. 

Album yang saya incar. Yang cukup membekas untuk saya. 

….. mungkin aku terlalu banyak berharap.

Sungguh, kutakingin berlaku mundur

Dengan lagu hati bertutur 

Bersama irama yang tak teratur

Sungguh, kutakingin berlaku mundur

Menjadi seorang penghancur

Sungguh, kutakingin berlaku mundur

Menjadi seorang penghancur

Sungguh, kutakingin berlaku mundur

Menjadi seorang penghancur

Sungguh, ku tak ingin ber la ku mun dur

Men ja di se o rang peng han cur
Jakarta, 230617

memulai, kembali.

Day after day, I must face a world of strangers
Where I don’t belong, I’m not that strong
It’s nice to know that there’s someone I can turn to
Who will always care, you’re always there

(Carpenters – I Won’t Last A Day Without You)

***

memulai mungkin sama sulitnya dengan mengakhiri. mencintai apa sama sulitnya dengan membenci? me-benci? menjadi benci?

antara sebuah khayalan dan kenyataan yang perlu untuk dijalankan. dan buah-buah cobaan yang sekiranya mulai bertengger dalam pikiran, apa iya seberat itu kenyataan yang harus dijalankan?

berkata-kata memang mudah. dan janji-janji, apa iya akan selalu ada di dalam hati?

“engkau siapa?”

bertanya-tanya pada sosok liyan yang mengganggu pikiran. yang selalu saja menjadi bulan-bulanan. liyan? apa iya? bukankah itu yang membuat adalah kita?

berbicara, membicarakan. bercinta, mencinta. akan samakah sulitnya? ah! mungkin aku terlalu banyak berbicara.

***

memulai mungkin begini rasanya, tidak mudah. tidak lantas begitu saja.

 

susah

menjadi humoris tentu menyenangkan. sesekali bercanda tanpa berbisa. sesekali melapun tanpa binasa. namun dalam beberapa hal ia memang tak bisa begitu saja.

makin hari makin menyadari bahwa menulis bukan perkara kecil yang terus menerus harus ditamati. bagi saya sungguh susah sekali, mengetikkan jari -jemari hingga melahirkan satu post saja perhari. sulit!

dan oh, iya. semakin hari sayapun juga menyadari, ada hal yang tak selamanya perlu untuk dinanti, perlu untuk disampaikan saban hari. tapi bagi saya yang begini, dengan segala hal yang¬†blak-blakan cukup sebagai uji nyali.¬†self control kali bahasa kerennya. yah.. semoga tidak ada kesalahfahaman didepan mata. ya… sebelum itu terjadi maka harus segera di-faham-kan bukan?

****

oh iya, satu lagi. ini blog sebenarnya untuk meng-compile karya, tapi kenapa jadi curhat belaka? (namanya) Manusia.

…Mengapa ?

sudah nyaris dua dalam sehari yang dilewatkan begitu saja. ah.. mungkin tidak bagiku. hari-hari yang biasanya penuh dengan tawa tetiba saya tertunduk tak berdaya. tanya kenapa ? mungkin hati, yang tetiba iba. yang sedang merasa segalanya seperti percuma

***

memang sudah terlalu lama. hati terasah hingga tajamnya menyerupai mata pisau dapur mama. lalu pada hari-hari yang abu itu ada yang menerawang, merasa ada yang kurang. dalam hidupnya.

“… mengapa?” tanya yang sekiranya selalu saja menyapa.

dalam setiap langkah murka. dengan jari-jemari manja yang mengeja setiap kata. mungkin juga dengan hati yang selalu saja terasah, tanpa ada akal. masih terus berjalan

“… mengapa?”

dengan lamunan memori panjang yang terus terus saja membentang dalam pikiran. yang mengganggu hati yang berhati-hati. yang suka tetiba saja merangsek merasuki ulu hati. menyesakkan.

***

kadang berfikir siapakah yang harus di dengar. apakah kau, mereka, ataukah hati yang akan tumpul ini?

seharian memikirkan hati, menjadi beributa tanya yang aku sendiripun semakin tak mengerti. mengapa harus ini, mengapa harus itu, kenapa harus begini dulu, kenapa harus begitu kemudian, mengapa harus terjadi yang seperti ini, mengapa tidak seperti itu saja…..

sudah terlalu banyak. sedikit mencoba mendengarkan kata hati. tapi terkadang ada emosi, ada yang menyelip tanpa permisi.

***

lelah. seperti terlalu banyak memikirkan setiap jengkal kehidupan. lalu harus bagaimana? bisakah mengajariku agar aku lebih santai sejenak? agar aku tidak memikirkan beribu-ribu ketakutan yang kian hari seperti akan mencengkramku kuat? lalu aku harus bagaimana? agar aku bisa segera menenangkan diriku sendiri tanpa diliputi rasa-rasa misterius itu?

aku sudah tidak bisa menuntut Tuhan. mungkin juga tidak seharusnya begitu. mungkin seharusnya aku diam, menikmati suara alam dan tidak memaksakan segala gema yang terdengar indah. jika tidak bisa juga, lalu aku harus bagaimana?

**********

tertunduk biru dengan alunan dari Pink Floyd – Us and Them.