Lelaki yang senyumnya meneduhkan

Membuatmu berbicara bagai kumenunggu melepas dahaga, wahai lelaki yang senyumnya meneduhkan

Seperti dikoyak mentah oleh kebisuan yang akupun selalu bertanya pada diri

“Bagaimana aku bisa begitu mencintaimu?”

Terlalu banyak asa, terlalu banyak rasa, yang semula pahit, menjadi asam, berubah lagi menjadi manis, lalu kembali lagi kurasakan pahitnya. Apa itu cukup memberimu kebebasan untuk merasukiku?

Ah…

Duhai lelaki yang senyumnya meneduhkan

Pada tiap sujud terakirku, tiap usai salatku kau selalu ada

Kugumamkan dalam doa doa

Semoga saja, yah…

Semoga saja

Kaupun melakukan hal yang sama

Jakarta,051217

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s