Dialog Diri

“hallo, apakah aku bisa bicara dengan kenyataan?”

“hai, untuk apa? ia sudah ada di depan matamu.”


(berpura-pura) menjadi tangguh bukanlah sebuah pilihan yang tepat untuk seorang perempuan. mungkin memang terkadang ia bisa menyelamatkanmu dari berbagai jurang kecurangan, tetapi tidak untuk kekecewaan. bukan lantas tidak akan ada wanita yang benar-benar tangguh, ada. tapi sekali lagi, kami adalah kaum perasa, yang sedikit-sedikit membawa hati sebagai tameng dalam segala masalah. lalu logika? mungkin ia sepenuhnya milik para pejantan. oh, ini sungguh justified sekali.


“ah , benarkah? bagaimana bisa aku masih berada seperti diawang-awang?”

“sudahkah kau meraba hati dan fikirmu? ”

“aku pikir mereka telah mati. aus, karena kecerobohanku memakai mereka terburu-buru”


kebanyakan berfikir bisa membuat hati (dalam arti yang sebenarnya) menjadi meradang, mungkin sesekali juga pupi berlebihan atau bahkan migrain yang berkepanjangan. iya, itu sering sekali terjadi pada saya. dari hati lari ke pokiran, mungkin memang baper itu seharusnya tak ada. kalo boleh saya membela, ya memang beginilah manusia. mau apa? jika dikata bahwa “jangan berharap selain pada Tuhan” tapi masih juga membangkang. lalu kemudian bilang, “saya ini cuma manusia, tempatnya segala salah”. hahaha! tingkah sudah seperti koruptor saja, banyak ngelesnya!


“apa kau percaya Tuhan?”

“iya aku percaya”

“serahkan semua permasalahanmu padaNya, bukankah Ia lebih mengetahui segala sesuatunya dibandingkan denganmu?”

“hahaha! kau pikir menyerahkannya segampang kita menyerahkan uang pada praktik jual beli? tidak. hidup, masalah, tidak segampang kau berujar! iya aku tau Ia lebih mengetahui segala sesuatunya. tapi juga aku tak bisa serta merta begitu saja menyerahkan padaNya. ia bukan pembantu, yang didatangi pada saat kita butuh saja. aku malu! dosa menggunung dan sesekali meraung meminta petunjuk..”

“lalu? ”


sesekali memang aku ingin melenggang dari kefaan yang nyata. dari kenyataan yang terkadang mengada-ada. juga berbagai persoalan yang entah kemana junturuntungnya. merasa lelah, sedang airmata sering berurai begitu saja. pernah sesekali ingin berhenti menengadah, tapiIa masih terlampau kuat pengaruhnya. kemudian….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s