‘isyq, ‘asyiq, ma’syuq*

aku membaca rumi dalam diwan i shams-i tarbiz nya
aku membaca omar khayyam dalam asronominya
dan aku membacamu dalam hatiku

melihat dalam hati yang senantiasa bertabur mawar merah
melihat dalam hati yang bertabur mawar putih
tapi kini,
seakan hatiku kosong
tak terisi oleh sesuatu apapun itu

aku menjerit
tapi telingaku tak mendengarnya
aku takut
tapi jiwaku tak memerdulikannya

segalanya jatuh bak hujan di siang hari
tapi mengertilah
bahwa aku membutuhkanmu selalu,
dalam rindu dn sepiku

hatiku terdiam
tatkala daun-daun itu meranggas pohon mereka
hancur
ketika ada seorang gadis kecil berjalan
di lihatnya pohon itu berceceran
bertanya dalam hati, ada apakah gerangan yang terjadi
dan
ketakutan perlahan menyelimuti

tak ada lagi kata yang terhempas
tak ada lagi rasa yang terputus
semuanya satu
dalam jiwamu yang utuh

aku merasakan derita nista
yang menggerogotiku dalam sepi
aku merasakan nestapa tak bertahta
menyergapku dalam ruang rindu

maafkan aku
dalam keraguan yang muncul di benakku
dalam derita yang menghantam keras dalam hatiku
aku masih ingin terus bersamamu
melewati hari mencari ruang dan waktu

Oktober, 2008

*Cinta, Sang Pecinta, yang Dicinta

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s